Selasa, 21 Agustus 2012

MEMULIAKAN KELUARGA RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM DAN PENJELASAN KEUTAMAAN MEREKA


 

لَكُمْ فِيهَا مَنَٰفِعُ إِلَىٰٓ أَجَلٍۢ مُّسَمًّۭى ثُمَّ مَحِلُّهَآ إِلَى ٱلْبَيْتِ ٱلْعَتِيقِ
Alloh Subhanahu Wata’ala Berfirman “Sesungguhnya Alloh bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan memberihkan kamu sebersih-bersihnya.”  ( Al Ahzab : 33)
وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ
“ Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Alloh, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati,” (Al Hajj: 32)
Syarah:
Penyusun Rahimahullah mengatakan, “Bab memuliakan Keluarga Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam dan Penjelasan Keutamaan Mereka,” Keluarga Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam terbagi menjadi dua bagian:
                Bagian Pertama : Orang-orang Kafir, Meraka bukan dari keluarga beliau sekalipun dari kerabat beliau menurut nasab, Akan tetapi, mereka tetap bukan keluarga beliau. Karena Alloh telah berfirman kepada Nuh Alaihissalam ketika ia berkata,
                Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku, termasuk keluargaku….” (Hud 45)
                Dan anaknya adalah seorang kafir,
“……. Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan dan diselamatkan)….” (Hud: 46)
                Jika Sebagian orang-orang kafir datang dari kerabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam, tetapi mereka tetap bukan keluarga beliau, sekalipun mereka menurut nasab adalah kerabat beliau.
Akan tetapi orang-orang mukmin dari kerabat beliau adalah bagian dari keluarga beliau, diantara mereka itu istri beliau. Sungguh istri beliau Radhiyallahu Anhunna dari keluarga beliau. Sebagaimana firman Alloh Subhanahu Wata’ala berkenan dengan para ibu kaum mukminin (Ummahatul Mukminin),
Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. ( Al Ahzab 32-33)
Ini adalah sebuah nash yang sharih ‘gamblang’ dan jelas sekali bahwa para istri Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam adalah bagian dari keluarga beliau. Ini bertentangan dengan pandangan kalangan Rafidhah yang berkata. “Sesungguhnya para istri Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam bukan dari keluarga beliau”, Ungkapan ini salah karena para istri beliau tidak diragukan sama sekali adalah bagian dari keluarga beliau.
                Keluarga Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam yang mukmin memiliki dua hak : hak iman dan hak kekerabatan dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam.
                Para istri Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam adalah para ibu kaum mukminin. Sebagaimana difirmankan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala di dalam kitab-Nya,
                “ Nabi Itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka” (Al Ahzab 6)
                Jadi para istri Rasuluallah Shalallahu Alaihi Wasalam adalah para ibu bagi kaum mukminin adalah secara ijma’. Maka barangsiapa mengatakan bahwa Aisyah Radhiyallahu Anha bukan ibuku, maka dia bukan dari golongan orang-orang mukmin. Karena Alloh berfirman,
                “ Nabi Itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka” (Al Ahzab 6)
                Maka barangsiapa mengatakan bahwa Aisyah Radhiyallohu Anhu bukan ibu kaum mukminin, maka orang-orang itu bukan dari kalangan kaum mukminin. Tidak mukmin kepada Al Qur’an dan tidak pula mukmin kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam.
                Sungguh aneh mereka itu, mencela Aisyah, mencercanya, dan marah kepadanya, padahal ia adalah istri Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam yang paling dicintai oleh beliau. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam tidak mencintai dari satu para istri beliau sebagaimana beliau mencintai Aisyah Radhiyallahu Anha. Hal sebagaimana sebuah hadist yang dinyatakan shahih menurut Al- Bukhari bahwa dikatakan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam,
يَا رَسُوْلَ اللهِ
Wahai Rasulullah, siapa orang yang engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah,” Mereka  bertanya, “Dari kalangan kaum pria?” Beliau menjawab, “Ayahnya.” (Maksudnya ialah Abu Bakar Ash-shiddiq Radhiyallahu Anhu)
Kelompok tersebut di atas sangat benci kepada Aisyah, mencerca dan melaknatnya, padahal ia adalah istri yang paling dekat kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam. Maka bagaimana bisa dikatakan kelompok itu mencintai Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam?  bagaimana bisa dikatakan bahwa kelompok itu mencintai keluarga Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam.? Padahal pada mereka berbagai dakwaan palsu yang tidak bisa dipertanggungjwabkan kebenarannya.
Wajib bagi kita memuliakan keluarga Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam dari kalangan kerabat beliau yang mukminin, mereka semua adalah keluarga beliau dan memiliki hak.
Kemudian Penyusun Rahimahullah juga menyitir ayat yang kita ketengahkan sekarang ini,
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak mengilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 32-33)
Sesungguhnya Allah bermaksud hendak mengilangkan dosa dari kamu”, yakni, najis maknawi, “dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”, yakni, setelah menghilangkan najis itu.  At-tathahhur adalah pembersihan selanjutnya pembagusan. Ungkapan:   تَطْهِيْرًا   (dengan sebersih-bersihnya) adalah kata dalam bentuk mashdar yang berfungsi sebagai penegasan terhadap apa-apa yang disebutkan sebelumnya, yang menunjukkan bahwa kesucian itu adalah kesucian sempurna.
Oleh sebab itu, seseorang yang menuduh melakukan zina kepada salah seorang istri Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam- na’udzubillah- maka sungguh penuduh itu adalah seorang kafir, sekalipun yang dituduh bukan Aisyah.
Orang yang menuduh Aisyah dengan tuduhan seperti diatas yang akhirnya dinyatakan bersih oleh Alloh adalah seorang yang kafir mendustakan Alloh, Halal darah dan hartanya. Sedangkan orang yang menuduh demikian kepada selain Aisyah, maka pendapat para ahli ilmu yang benar adalah bahwa ia kafir pula. Karena tindakan yang demikian itu adalah penghianatan yang paling agung terhadap Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam bahwa kasurnya ditempati oleh sebagian para wanita pezina, na’udzu billah. Padahal Alloh Ta’ala telah berfirman,
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), (An Nuur : 26).
Barangsiapa menuduh salah seorang istri Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam telah berzina, maka ia telah menjadikan Rasulullah Shalallhu Alaihi Wasalam termasuk dari mereka  -menjadikan Rasulullah Shalallahu Alaihi Waslam sebagai seorang yang kerji na’udu billah karena Aloh telah berfirman,
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji,  (An Nuur 26)
Dengan ini diketahui bahwa perkara ini adalah perlara yang sangat serius dan sangat berbahaya. Yang wajib bagi kita adalah mengkhususkan kecintaan yang hakiki kepada seluruh anggota keluaraga Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam, baik para istri beliau dan kaum mukminin dari kerabat beliau.
Dari Yazid bin Hayan, ia berkata: "Saya berangkat bersama Hushain bin Sabrah dan Umar bin Muslim ke tempat Zaid bin Arqam Radhiallohu Anhu. Ketika kita sudah duduk-duduk di dekatnya, lalu Hushain berkata padanya: "Hai Zaid, engkau telah memperolehi kebaikan yang banyak sekali. Engkau dapat kesempatan melihat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam., mendengarkan Hadisnya, berperang besertanya dan juga bersembahyang di belakangnya. Sungguh-sungguh engkau telah memperolehi kebaikan yang banyak sekali. Cobalah beritahukan kepada kita apa yang pernah engkau dengar dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam. Zaid lalu berkata: "Hai anak saudaraku, demi Allah, sungguh usiaku ini telah tua dan janji kematianku hampir tiba, juga saya sudah lupa akan sebahagian apa yang telah pernah saya ingat dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam. Maka dari itu, apa yang saya beritahukan kepadamu sebagai Hadist, maka terimalah itu, sedang apa yang tidak saya beritahukan, hendaklah engkau semua jangan memaksa-maksakan padaku untuk saya terangkan." Selanjutnya ia berkata: "Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam. pernah berdiri berkhutbah di suatu tempat berair yang disebut Khum, terletak antara Makkah dan Madinah. Beliau Shalallahu Alaihi Wasalam. lalu bertahmid kepada Allah serta memuji Nya, lalu menasihati dan memberikan peringatan, kemudian bersabda:
"Amma Ba'du, ingatlah wahai sekalian manusia, hanyasanya saya ini adalah seorang manusia, hampir sekali saya didatangi oleh utusan Tuhanku - yakni malaikatul-maut, kemudian saya harus mengabulkan kehendak Nya - yakni diwafatkan. Saya meninggalkan untukmu semua dua benda berat - agung - iaitu pertama Kitabullah yang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya. Maka ambillah amalkanlah - dengan berpedoman kepada Kitabullah itu dan peganglah ia erat-erat." Jadi Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam. memerintahkan untuk berpegang teguh serta mencintai benar-benar kepada kitabullah itu.
Selanjutnya beliau Shalallahu Alaihi Wasalam. bersabda: "Dan juga ahli baitku. Saya memperingatkan kepadamu semua untuk bertaqwa kepada Allah dalam memuliakan ahli baitku, sekali lagi saya memperingatkan kepadamu semua untuk bertaqwa kepada Allah dalam memuliakan ahli baitku."
Hushain lalu berkata kepada Zaid: "Siapakah ahli baitnya itu, hai Zaid. Bukankah isteri-isterinya itu termasuk dari golongan ahli baitnya?" Zaid menjawab: "Ahli baitnya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam. ialah Ahli keluarga keturunan - Ali, Alu Aqil, Alu Ja'far dan Alu Abbas." Hushain mengatakan: "Semua orang dari golongan mereka ini diharamkan menerima sedekah." Zaid berkata: "Ya, benar." (Riwayat Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan:
"Ingatlah dan sesungguhnya saya meninggalkan kepadamu semua dua benda berat-agung, pertama ialah Kitabullah. Itu adalah tali agama Allah. Barangsiapa yang mengikutinya ia dapat memperolehi petunjuk, sedang barangsiapa yang meninggalkan - mengabaikan - padanya, ia akan berada dalam kesesatan."
(Kitab Riyadhussholihin BAB 43, Kajian HARIS di Masjid Al Marhamah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar